Temukan rahasia kaya lewat internetTemukan cara gampang untuk sukses

Sabtu, 09 Januari 2010

Tafsir Ayat Kursi Bagikan



Teks Ayat Kursi

اللهُ لآَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَنَوْمُُ لَّهُ مَافِي السَّمَاوَاتِ وَمَافِي اْلأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَابَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَاخَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيم

“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya, Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah:255)

Kandungan Ayat
Ayat kursi ini mengandung banyak keutamaan bahkan setiap katanya banyak sekali arti yang luas. Namun kandungan yang paling penting antara lain:

  • Ayat Kursi salah satu agung dan ayat mulia dalam Al-Qur’an, karena secara umum memuat banyak sekali asma-asama (nama-nama) Allah dan sifat-sifat Allah yang mulia.


  • Tidak ada satupun tindakan yang tidak diketahui Allah sekecil apapun perbuatan itu. Konsekuensi ayat ini adalah bahwa setiap muslim harus benar-benar menjaga setiap gerak langkahnya. Karena apapun yang dilakukannya dari mulai bangun hingga kembali memejamkan mata ada balasan yang akan diperolehnya


  • Keharusan memberikan kualitas pada kehidupan dengan berbagai manfaat. Baik untuk diri sendiri, untuk agamanya, keluarga, masyarakat dan hingga akhiratnya.


  • Apapun bentuk yang terjadi di dunia ini, baik yang menimpa dirinya, pekerjaanya, keluarganya dan lainnya tidak lepas dari takdir dan kekuasaan Allah semata. Dan apapun bentuk perubahan yang dikehendaki manusia tidak lepas dari izin Allah semata. Seperti yang tertuang dalam kalimat:
    “Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya.”



  • Keutamaan Membaca Ayat Kursi
  • Nabi Saw pernah, berkata kepada Ubay bin Ka’ab, “Ayat apa yang paling agung di dalam Kitabullah?.”“Aku menjawab, Allah dan Rasul-Nya-lah yang lebih tahu.” Hingga beliau mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, kemudian aku berkata, “Allâhu Lâ ilâha illa huwal Hayyul Qayyûm.” Dia berkata, “Lalu beliau menepuk dadanya sembari berkata, “Semoga ilmumu menjadi ringan, wahai Abul Mundzir!.” (HR.Muslim)


  • Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Rasulullah Saw menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan, lalu seseorang datang kepadaku seraya membuang makanan yang ada di tangannya, lantas aku memungutnya sembari berkata, ‘Akan aku laporkan hal ini kepada Rasulullah Saw. Lalu Abu Hurairah menceritakan tentang hadits tersebut, diantara isinya adalah, ‘Beliau bersabda, ‘ Bila engkau akan beranjak ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi karena sesungguhnya ia (dapat menjadikanmu) senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah dan syaithan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.’ Nabi Saw., bersabda kepadanya, “Dia telah berkata jujur padamu padahal seorang pembohong, itulah syaithan.” (HR.al-Bukhari)


  • Banyak hadist lainnya yang menceritakan keutamaa membaca ayat kursi begitu pula dengan penafsirannya dan memang bukan disini tempatnya membahas panjang lebar.

    Waktu Membaca Ayat Kursi
    Dianjurkan membaca ayat Kursi seusai setiap shalat fardhu, ketika akan tidur dan di saat apa saja. Imam Nawawi dalam Al-Adzakrnya menyarankan agar setiap pergi keluar dari rumah atau hendak bepergiaan baiknya membaca Ayat Kursi 3 x selain membaca surat Al-Fiil.
    Saya pribadi sering melaksanakan anjuran sang Imam, dan alhamdulilah memang berkah dan manfaatnya besar sekali.
     
    Kang Ackmanz 

    Kamis, 07 Januari 2010

    Tarekat Sanusiyyah : Politik Islam dan Esoterisme Islam

    Historical accounts kehidupan para sufi terangkai bagaikan legenda. Cerita nan kompleks: kisah penuh hayalan, dan kasat pula dengan nilai-nilai spiritual, rasionil dan irasionill. Maka, sulit bagi kita untuk menyangkal bahwa tidak mungkin kehidupan kita dapat terpisahkan dari kisah-kisat tersebut, dan sulit pula untuk membedakan bagian mana yang merupakan cerita fiksi dan bagian mana yang menjadi realitas historis. Inilah tasawuf yang datang selalu “nyentrik” untuk kita pelajari.

    Di zawiyah-zawiyah, bangunan khusus yang dipakai para sufi untuk mengasingkan diri, mereka menyepi; berdzikir dan membaca aurad. Hay ibn Yaqdhah, ”anak rusa” yang berhasil menemukan Tuhannya setelah lama melakukan ”riset” dan berkali-kali mengalami kegagalan. Demikian metode Ibn Thufail, filosof neo-platonis, mengambarkan proses kasyaf seorang sufi. Ada Ibrahim Ibn Adham sang jutawan (atau mungkin milyader) yang ihklas menukar kemewahan dunia dengan kain wol kasar dan mengembara menjadi ”misionaris” sufi. Adalah Rabiah Al Adawiyyah yang menolak lamaran Hasan Al Basri lantaran sudah merakasan nikmatnya ”kencan” dengan Tuhan, di pengasingan spiritualnya.

    Begitulah sekelumit kisah– sekali lagi mengulang– yang sulit memisahkan antara bagian yang mitos dan realitas historis. Sejarah lahirnya tasawuf terekam dalam berbagai riwayat. Menurut catatan sejarah ia muncul pada abad ke dua hijriyyah, namun prakteknya ia lahir bersamaan dengan datangnya Islam. Saat itu, manusia terbuai pesona duniawi seperti harta, tahta, wanita dan jabatan. Mereka hanya menyibukkan diri pada berbagai hal yang berkaitan dengan urusan dunia (dan lalai masalah ukhrowi !!!), dan menumpuknya. Sebagian orang yang masih bersih hatinya (baca: zuhud dan wira’i) dan tidak mau tertular virus ini lalu pergi mengasingkan diri. Golongan terakhir ini menyibukkan dirinya untuk beribadah dalam ”pengasingan.”

    Kemudian, praktik spiritual semacam ini terkenal dengan nama tasawuf. Dari aspek epistemologis tasawuf berasal dari kata ”ash shafa”, suci. Pendapat lain mengatakan, berasal dari ”ash shaf al awwal.” Sebab, di hadapan Tuhan, mereka adalah orang-orang terdepan. Menurut yang lain, tasawuf diambil dari kata ”ash shuffah” karena disamakan dengan sifat dan perilaku ahl shuffah pada zaman nabi Saw.

    Kisah-kisah para sufi pada awalnya murni untuk menjauhi carut marutnya fitnah dunia dan pelbagai macam bentuknya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengikuti tarekat– atas bimbingan mursyid. Misalnya, untuk menyebutkan beberapa contoh, Al Qodariyyah, As Syadziliyyah, Naqsabandiyah dan lainnya. Mereka selalu dibimbing untuk selalu ingat kepada Allah kapan dan di mana pun berada. Dalam perjalanan waktu, doktrin-doktrin tasawuf mulai kesusupan aliran filsafat, akidah, pemikiran ilmu lain termasuk (ideologi) politik dan lain sebagainya. Sebut saja salah satu tarekat di Libya, As Sanusiyyah. Dari sinilah menarik untuk mendiskusikan konflik dan pergumulan antara Islam esoteris (tasawuf) dan dunia politik (pemerintahan) dalam menunjukan eksistensinya sebagai lembaga keagamaan dan kemasyarakatan. ***

    N.E. Brutsen dalam bukunya, Tarikh Libya Fi Al Ashri Al Hadits: Muntashif Al Qurn Al Sadisa Al Ashara-Mathla’i Al Isyrin, meriwayatkan peristiwa yang terjadi pada abad ke 19. Saat itu, imperium Turki Ottoman (selanjutnya saya tulis: TO) mulai rapuh. Daulah Islam terakhir di dunia itu tidak mampu membendung arus ekspansi Barat. Penyebab melemahnya TO, menurut para tokoh muslim kala itu, adalah akibat kemunduran ekonomi di dunia Islam, selain kemerosotan pada bidang budaya karena pembesar-pembesar Turki bermental dan bermoral rendah serta mendewakan gaya hidup hedonis. Hal ini mengundang keprihatinan sebagian tokoh-tokoh muslim, di antaranya, Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Ajakan mereka merekonstruksi Islam (islah al islam) mendapat respons positif dari dunia Islam, maka dengan cepat gemanya menyebar ke mana-mana. Di antara isi seruan terbebut mengajak ummat Islam untuk menata kembali perekonomian, pengetahuan, dan keilmuan serta wawasan dan meninggalkan kejumudan berpikir.

    Berada di belahan wilayah TO nan jauh (dari kedua tokoh tersebut) lahir sebuah gerakan tarekat bernama tarekat Sanusiyyah yang kelahirannya “dibidani” oleh Muhammad Ali Al Sanusi. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1837M. Ali Al Sanusi dilahirkan di Mostaganem, Al Jazair, pada tahun 1787. Ali Al Sanusi mendalami tasawuf di Marakes, Maroko. Ia tidak hanya pakar agama, dalam memimpin pun jagonya. Saat TO membentuk tim pergerakan renaissance Eropa, Ali Al Sanusi salah satu orang anggotanya. Namun, tidak jelas latar belakangnya tiba-tiba tarekat yang ia pimpin menjadi oposisi utama Ottoman.

    Berbekal kemampuannya sebagai memimpin, Ali Al Sanusi lalu menyebarkan terekatnya sampai membentang ke arah timur hingga masuk ke Mesir. Di wilayah selatan pengikutnya tersebar di Sudan dan Tchad. Pengikut Sanusiyyah juga berada di Al Jazair dan Tunisia. Dengan modal kemampuannya berbahasa Inggris dan Prancis, di Tchad Ali Al Sanusi kembali sukses melebarkan dakwahnya hingga memasuki wilayah Koufra pada route Karavan, antara Wadai dan Benghazi, sejak tahun 1894.

    Misi gerakan tarekat ini adalah memurnikan kembali ajaran Islam ke doktrin yang murni dan mendirikan negara Islam yang berdaulat serta bebas dari tangan penjajah. Namun, isu-isu yang dilontarkan oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al Afghani sedikit menghambat penyebaran tarekat Sanusiah. Sebab, menurut Nicola Ziyadah, ”Seruan mereka berdua lebih modern dari pada gerakan tarekat Sanusiyyah dan gagasan-gagasannya juga lebih komprehensif, maka lebih mudah diterima oleh mayarakat Arab.” Selain itu, masih menurut Nicola, gagasan mereka sesuai dengan konteks dan memiliki korelasi yang kuat dengan pemikiran masyarakat Arab.

    Meskipun demikian, penduduk Tripoli tetap menjadi pengikut setia tarekat Sanusiyyah. Apalagi setelah tokoh perjuangan Libya nan melegenda, Omar Al Mukhtar, menjadi pengikut panatik tarikat sufi ini. Bergabungya Al Mukhtar dengan tarikat Sanusiyah jelas menjadi udara segar. Disamping kemampuannya dalam Agama dan politik, ia juga seorang pejuang yang mampu membuat pasukan Italia terserang ”migren.” Lion of the Desert dari Libya itu bagi Italia adalah enemy of interior. Kemampuan diplomasinya yang luar biasa mampu menyatukan suku-suku Libya yang sejak lama terkot-kotak akibat termakan fitnah Italia yang memecah-belah suku. Di bawah pimpinannya tarekat Sanusiyyah tidak kenal lelah bergerilya di gurun sahar demi terwujudnya kemerdekaan dan kebnagkitan Libya.

    The International Magazine on Arab Affair Special Report mencatat peran anggota Sanusiyyah nan perkasa itu, ”Bagi tentara Italia yang jauh lebih kuat persenjataanya, para pejuang Libya barangkali hanyalah sekelompok orang bersenjata tidak berarti. Namun, dibawah pimpinan Omar Al Mukhtar para pejuang itu membuat Italia berperang tanpa akhir di padang pasir hingga akhirnya mereka harus mengakui kehebatan dan kekuatan kaum tarekat, menyerah. Mereka datang bagaikan burung Ababil yang perkasa dan menakutkan para musuh yang dapat membuat tentara Abraham porak-poranda saat menyerang Ka’bah.”

    Al Mukhtar tetap-lah Al Mukhtar, seonggok daging sama seperti manusia yang lain. Setangguh apapun ia kematian pasti mampir jua. Persenjataan yang tidak seimbang cukup sebagai alasan untuk membuat para pejuang ”kelelahan.” Al Mukhtar tertangkap di padang Koufra. Kemudian, dihukum gantung di hadapan pengikutnya pada 1932. Itulah potert sejarah kepahlawanan para sufi yang tidak pernah takut mati dan kemiskinan dalam membela rakyat dan Negara. Akan tetapi, jika prediksi pemerintah Italia bahwa dengan digantungnya pengikut panatik As Sanusiah ini akan memadamkan gerakan tarikat dan anggotanya yang lain dalam membela kebenaran dan martabat bangsa, maka prediksi tersebut salah besar. Justru kesyahidannya telah membakar semangat generasi muda Libya untuk bisa mewujudkan harapan bersama: Libya harus merdeka dan bangkit dari cengkeraman penjajah.

    Pada 31 Januari 1942M anak-anak muda Libya yang sedang study di Kairo mendeklarasikan Jamiyyah Omar Al Mukhtar dengan misi: mencapai kemerdekaan Libya (Izzuddin Abdussalam, Tarikh Libya Al Muashir Al Siasi Wa Al Ijtimai).

    Akhirnya, perjuangan tarekat Sanusisyah untuk mendirikan negara independen tidak sia-sia. Karena pasca-Perang Dunia ke II atas bantuan Inggris dan Uni Soviet Libya merdeka dan langsung mendapatkan pengakuan dari PBB. Dan pada saat itu terjadilah aklamasi mengangkat cucu pendiri tarekat Sanusiyyah, Idris Sanusi, sebagai raja Libya pertama pada tahun 1952 dengan nama Raja Idris I. Demikianlah sekilas tentang peran tarekat sufi (Sanusiyyah) bagi kebangkitan nasional (Libya). Awalnya mereka mulai sebagai oposisi dinasti Utsmaniyyah yang tidak memihak rakyat sampai akhirnya mampu menyingkirkan penjajah Italia, lalu keluar menjadi golongan nomor satu di Libya. Tapi dengan adanya kudeta tidak berdarah oleh salah seorang perwira muda, Moammar Khadafy yang baru pulang dari Inggris (1969), maka dinasti (tarekat) Sanusiyyah berakhir.

    Qadariyah

    1. Asal-Usul Kemunculan Qadariyah
    Qadariyah berasal dari bahasa arab, yaitu dari bahasa qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan. Adapun menurut pengertian termonologi, Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya; ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri, berdasarkan pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa Qadariyah dipakai untuk nama aliran yang memberi penekanan atas kebebasan dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia harus tunduk pada qadar tuhan.
    Seharusnya sebutan Qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah laku manusia, baik yang bagus maupun yang jahat.
    Namun sebutan tersebut telah melekai kaum sunni, yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehandak. Menurut Ahmad Amin, sebutan ini diberikan kepada para pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadis yang menimbulkan kesan negatif bagi nama Qadariyah.
    Kapan Qadariyah muncul dan siapa tokoh-tokohnya? Merupakan dua tema yang masih diperdebatkan. Manurut Ahmad Amin, ada ahli teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan. Oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy. Ma;bad adalah seorang taba’i yang dapat dipercaya dan pernah berguru pada Hasan Al-Basri. Adapun Ghalian adalah seorang orator berasal dari Damaskus dan ayahnya menjadi maula Usman bin Affan.
    Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyum, seperti dikutip Ahmad Amin, memberi informasi lain bahwa yang pertama kali memunculkan faham Qadariyah adalah orang Irak yang semuala beragama kristen kemudian beragama islam dan balik lagi keagama kristen. Dari orang inila Ma’bad dan Ghailan mengambil faham ini. Orang irak yang dimaksud, sebagaimana dikatakan Muhammad Ibnu Syu’i
    Yang memproleh informasi dari Al-Auzai, adalah susunan.
    Sementara itu, W. Montgomery watt menemukan dokumen lain melalui tulisan Hellmut Ritter dalam bahasa jerman yang dipublikasikan melaului majalah Der Islam pada tahun 1933. Artikel ini menjelaskan bahwa faham Qadariyah terdapat dalam kitab Risalah dan ditulis untuk Khalifah Abdul malik olah Hasan Al-Basri termasuk orang Qadariyah atau bukan. Hal ini memang menjadi perdebatan, namun yang jelas, berdasarkan catatannya terdapat dalam kitab Risalah ini ia percaya bahwa manusia dapat memilih secara bebas memilih antara berbuat baik atau buruk.
    Ma’bad Al-jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqi, menurut watt, adalah penganut Qadariyah yang hidup setelah Hasan Al-Basri. Kalau dihubungkan dengan keterangan Adz-Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal, seperti dikutip Ahmad Amin yang menyatakan bahwa Ma’bad Al-Jauhani pernah belajar pada Hasan Al-Bashri, maka sangat mungkin fahm Qadariyah ini mula-mula dikembangkan oleh Hasan Al-Bashri, dengan demikian keterangan yang ditulis oleh ibn Nabatah dalam Syahrul Al- Uyun bahwa fahan Qadariyah berasal dari orang irak kristen yang masuk islam kemudian kembali lagi kekristen,adalah hasil rekayasa orang yang tidak sependapat dengan faham ini agar orang-orang yang tidak tertarik dengan pikiran Qadariyah. Lagipula menurut Kremer, seperti dikutip Ignaz Goldziher , dikalangan gereja timur ketika itu terjadi perdebatan tenteng butir doktrin Qadariyah yang mencekam pikiran para teologinya.
    Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya Qadariyah muncul, ada baiknya jika meninjau kembali pendapat Ahmad Amin yang menyatakan kesulitan untuk menentukannya. Para peniti sebelumnya pun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut Qadariyah ketika itu banyak sekali. Sebagian terdapat di irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Bashri. Pendapat ini di kuatkan oleh Ibn Nabatah bahwa yang mencetuskan pendapat pertama tentang masalah ini adalah seorang kristen di irak yang telah masuk islam pendapatnya itu diambil oleh Ma’bad dan Ghallian . sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di Damaskus. Diduga disebabkan oleh orang-orang yang banyak dipekerjakan diistana-istana.
    Faham Qadariyah mendapat tantangan keras dari umat islam ketika itu, ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinua reaksi keras ini. Pertama, seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat arab sebelum islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Mereka selalu terpaksa mengalah kepada keganasan alam. Panas yang menyengat, serta tanah dan gunung yang gundul. Mereka merasa dirinya lemah dan tak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya.faham itu terus dianut kedatipun mereka telah beragama islam, karena itu , ketika faham Qadariyah di kembangkan , mereka tidak dapat menerimanya, faham Qadariyah itu dianggap bertentangan dengan doktrin islam.
    Kedua tantangan dari pemerintah ketika itu. Tantangan itu sangat mungkin terjadi karena para pejabat pemerintahan menganut faham Jabariyah. Ada kemungkinan juga pejabat pemerintah menganggap gerakan faham Qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai, dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.

    2. Doktrin-Doktrin Qadariyah
    Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal , pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah akibatnya, orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan.
    Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghailan tentang doktrin Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Mansuia sendiri pula melakukan atau menjauhi perbuatan atau kemampuan dan dayanya sendiri. Salah seorang pemuka Qadariyah yang lain , An-Nazzam , mengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya dan ia berkuasa atas segala perbuatannya.

    Dari beberapa penjelasan diatas ,dapat di pahami bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Mansuia mempunyai kewenangan untuk melakun segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memproleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya.
    Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri ,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.
    Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah. Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri ,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.
    Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu.Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah.
    Secara alamiah, sesungguhnya manusia telah mailiki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti hukum alam. Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip atau ikan yang mampu berenang dilautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan. Seperti gajah yang mampu mambawa barang beratus kilogram, akan tetapi manusia ditakdirkan mempunyai daya pikir yang kreatif, demikian pula anggota tubuh lainnya yang dapat berlatih sehingga dapat tampil membuat sesuatu ,dengan daya pikir yang kreatif dan anggota tubuh yang dapat dilatih terampil. Manusia dapat meniru apa yang dimiliki ikan. Sehingga ia juga dapat berenang di laut lepas. Demikian juga manusia juga dapat membuat benda lain yang dapat membantunya membawa barang seberat barang yang dibawa gajah. Bahkan lebih dari itu, disinilah terlihat semakin besar wilayah kebebasan yang dimiliki manusia. Suatu hal yang benar-benar tidak sanggup diketahui adalah sejauh mana kebebasan yang dimiliki manusia ? siapa yang membatasi daya imajinasi manusia? Atau dengan pertanyaan lain, dimana batas akhir kreativitas manusia?
    Dengan pemahaman seperti ini, kaum Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyadarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan tuhan. Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin islam sendiri. Banyak ayat Al-Qur’an yang mendukung pendapat ini,

    Bahagiakan Orang Tua


    Renungan Ayat Dan Hadist

    Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan” ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Israa: 23-24)

    Tiga macam do'a (yang) dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa kedua orang tua, dan do'a seorang musafir (yang berpergian dg tujuan baik). (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Hadist Sahih)

    Salah Satu Kiat Orang Sukses…
    Alhamdulilah, kami sering mengantar orang untuk berhaji atau berumrah, baik sebagai pembimbing Ibadah ataupun pergi bersama keluarga. Di saat menjadi pembimbing Ibadah, berbagai macam watak dan peranggai jamaah sering ditemui. Beberapa kali saya sering mengamati jamaah yang dianggap Mapan, sukses dalam bisnis atau karir. Dan semuanya jawabannya satu..apa itu?? Ternyata mereka adalah orang-orang yang sangat menghormati dan mentaati kedua orang tuanya,khususnya sang Ibu.
    Kategori hormat dan taat ini bukan saja taat dan patuh, namun pula mengurus semua keperluan ketika orang tuanya sudah tua.

    Ortu Bukan Tempat Curhat Saja…Uruslah Mereka
    Orang tua bukan sekedar curahan hati kita, ketika ditimpa masalah baik dalam rumah tangga, pekerjaan, kita langsung telepon orang tua dan mulailah curhat. Namun ketika butuh bantuan atau ketika dapat rezeki, berbagai alasan kita ungkapkan:

    “Duh…maaf yah bu, saya sibuk dengan kerjaan..ntar deh yah kalau ada waktu luang….
    …Wah bu/Pak, saya nggak punya duit sekarang…Ibu kan tahu gaji saya berapa! Belum lagi keperluan rumah tangga???...
    ...Suami saya tuh Pak...nggak tahu perasaan saya...nggak pernah ngebahagiain aku...!!!
    ...Istri saya tuh Bu...kerjaanya main FB melulu..!!
    …..Kenapa sih Pak minta uang terus?? Kan Bapak tahu saya nih cuman pegawai negeri???

    Dan masih banyak lagi alasan kita yang pada dasarnya menunjukan betapa kita sering menjadikan orang tua tempat mengadu, tempat curhat semua kesulitan kita. Seakan-sekan mereka hanya mendengar semua ocehan kita, semua kesulitan kita dari kecil sampai berkeluarga sekalipun....

    Sudah saatnya kita membahagiakan orang tua kita....Kita punya masalah keluarga/rumah tangga..Sssttt jangan bilang mereka..
    Kita punya masalah dengan pekerjaan...ssttt mereka tidak perlu tahu...
    Beri kabar yang gembira saja...agar hatinya senang dan bahagia.

    Tahukah…!!! Ternyata permintaan orang tua kita ini…apapun permintaannya..akan mengundang rahmat dan berkah Allah??? Apa tuh???..sukses dan bahagia…
    Minimal bahagiakan hati mereka, tampakan di depan mereka bahwa kita anak yang baik, patuh dan taat.

    Jawabannya Satu….Hormati, patuh dan sayangi Orang Tua ..!!
    Berbagai persoalan hidup pastilah silih berganti datang dalam kehidupan kita, dan ini adalah satu kewajaran. Nah, salah satu solusi jitu menghadapi persoalan ini adalah meminta doa orang tua kita,selain kita hormati mereka pula, kita urus keperluan mereka dengan kemampuan yang ada.
    Ketika kita mendapat rezeki, kirim sebagian rezeki kepada mereka, kirim makanan yang baik, urus mereka. Lihat dapur mereka, mungkin ada yang kurang, urus sandang pangan mereka….Kalau kita sering Hang Out…ajaklah mereka sekali-kali.
    Tanya mereka...Apa yang mereka mau!!!
    Kita mungkin hebat dalam pandangan orang, supel, pandai bergaul, selalu mengikuti mode, shoping di mall, karir ok, pekerjaan bagus... de el el…
    tapi mungkin saja kita dikutuk Allah, manakala kita membiarkan orang tua kita..nun jauh disana, hanya nonton TVRI di TV butut atau mungkin hanya mendengarkan radio saja, sedangkan kita sering nonton di 21,.
    Kita tiap minggu makan di restoran2 bersama keluarga, namun orang tua kita hanya makan ikan asin saja, dan atap rumahnya pun bocor lagi.
    Kita sering having fun ke dufan, Bali, lombok, Disnyeland Hong Kong..sedangkan ortu kita hanya duduk termenung karena tidak ada yang mengajak?????
    Kita siapkan dana untuk haji dan umrah..namun ortu kita..tidak kita ajak dengan alasan dana hanya cukup untuk berdua saja.
    Sukseskah kita dengan cara seperti itu??? Akankah Allah memandang kita sebagai seorang hamba yang soleh dan taat??? Nudzubillah min dzalik…
    Ternyata ketika kita sukses, bahagia…itu bukan karena tangan kita….nun jauh disana orang tua kita mendoakan untuk kita hatinya senang, bahagia karena kita telah membahagiakan mereka…
    Pantaslah mereka akan berdoa sambil menjerit:

    …” Ya Allah bahagiakan anakku, sukseskan anakku…karena dia telah membahagiakan aku….”

    Bagaimana Cara Kita Agar Tetap Membahagiakan Orang Tua Meskipun Mereka Telah Wafat??
    Doakan mereka sesudah shalat wajib, hajikan mereka jika mereka belum berhaji (haji badal), punya rezeki? sedekahkan atas nama orang tua kita. Ada yang mambangun Madrasah atau Masjid?? infaq kan atas nama orang tua...dan banyak lagi caranya

    Doa Untuk Ibunda:
    Untuk Ibuku….Dengan kasih sayangmu,..aku bisa begini…dengan didikanmu…aku bisa menikmati hidupku…Ya Allah Ya Karim..maafkan aku yang belum menjadi anak yang patuh dan taat…..terimalah amal solih ibuku..Ya Allah…luaskan dan terangi kuburnya..

    Sabtu, 02 Januari 2010

    Bercermin Diri

    Tatkala ku datangi sebuah cermin Tampak sesosok yang sangat lama ku kenal dan sangat sering ku lihat.
    Namun aneh, sesungguhnya aku belum mengenal siapa yang ku lihat.

    Tatkala ku tatap wajah, hatiku bertanya, apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya dan bersinar di surga sana??

    Ataukah wajah ini yang akan hangus legam di neraka jahanam?

    Tatkala ku tatap mata, nanar hatiku bertanya
    Mata inikah yang akan menatap penuh kelezatan dan kerinduan.... menatap Allah, menatap Rasulullah, menatap Kekasih-kekasih Allah kelak??
    Ataukah mata ini yg terbeliak, melotot, menganga, terburai menatap neraka jahanam..
    Akankah mata penuh maksiat ini akan menyelamatkan??
    Wahai mata, apa gerangan yg kau tatap selama ini??

    Tatkala ku tatap mulut, apakah mulut ini yg kelak akan mendesah penuh kerinduan...
    Mengucap La ilaaha ilallah saat malaikat maut datang menjemput??
    Ataukah menjadi mulut menganga dgn lidah menjulur dgn lengking jeritan pilu yg akan mencopot sendi2 setiap pendengar...
    Ataukah mulut ini menjadi pemakan buah zaqun jahanam ..yg getir, penghangus, penghancur setiap usus Apakah gerangan yg kau ucapkan wahai mulut yg malang? berapa banyak dusta yg kau ucapkan?
    Berapa banyak hati hati yg remuk dgn pisau kata2mu yg mengiris tajam?

    Berapa banyak kata2 manis semanis madu yg palsu yg kau ucapkan tuk menipu?
    Betapa jarang engkau jujur
    Betapa langkanya engkau syahdu memohon agar Tuhan mengampunimu... Tatkala ku tatap tubuhku Apakah tubuh ini kelak yg akan penuh cahaya.. Bersinar, bersuka cita, bercengkrama di surga??
    Atau tubuh yg akan tercabik2 hancur,mendidih di dalam lahar membara jahanam, terpasung tanpa ampun,derita yg tak pernah berakhir. Wahai tubuh, berapa banyak maksiat yg kau lakukan??
    Berapa banyak orang2 yg kau zalimi dgn tubuhmu?

    Berapa banyak hamba2 Allah yg lemah yg kau tindas dgn kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolongan yg kau acuhkan tanpa peduli padahal kau mampu?
    Berapa banyak hak2 yg kau rampas?

    Ketika ku tatap hai tubuh..
    Seperti apa gerangan isi hatimu Apakah isi hatimu sebagus kata2 mu Atau sekotor daki daki yg melekat di tubuhmu Apakah hatimu segagah ototmu Atau selemah daun2 yg mudah rontok Apakah hatimu seindah penampilan mu Ataukah sebusuk kotoran kotoran mu Betapa beda..betapa beda..apa yg tampak di cermin dgn apa tersembunyi.... Betapa beda apa yg tampak di cermin dan apa yg tersembunyi.. Aku telah tertipu, tertipu oleh topeng...... Betapa yg kulihat selama ini adalah topeng, hanyalah topeng belaka Betapa pujian yg terhambur adalah memuji topeng Betapa yg indah ternyata hanyalah topeng.. Sedangkan aku..hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus.. aku tertipu, aku malu ya Allah.. Allah..selamatkan aku... Amin ya rabbal alamin...

    Powered by FeedBurner

    Hak Cipta Dilindungi oleh : undang - undang yang berlaku